Hotline: 081.385.386.583 - 0882.9685.0453 - 0895.6131.08911

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Sembuh dari HIV/AIDS, Unik Pun Menikah Lagi

Selasa, 26 Agustus 2014

Waktu seolah berhenti tatkala dokter menjatuhkan vonis Unik Sulistyowati (35), seorang ibu rumah tangga di Semarang, positif mengidap HIV/AIDS. Belum tuntas kesedihannya ditinggal mati suami, hingga ia seorang diri menanggung hidup bersama putri semata wayangnya, kabar mengejutkan itu datang. Penyakit yang mematikan dan memalukan bagi kebanyakan orang itu ternyata telah bersarang di tubuhnya.

Kematian seolah sudah di depan mata. "Saya dinyatakan positif tahun 2012, mendengar berita itu langsung down. Bagimana nasib anak saya nanti? Suami sudah meninggal, sementara kondisi saya seperti ini. Saya takut teman-teman akan menjauhi saya. Ya Allah dosa apa yang telah kami perbuat?" ungkap Unik, di sela-sela kegiatan Workshop Jurnalisme Empati oleh Komisi Penaggulangan Aids (KPA) Kabupaten Semarang di Ungaran, Senin (24/8/2014) malam.

Semenjak dinyatakan mengidap HIV/AIDS, hari-hari yang dilalui Unik terasa menyakitkan. Ia tak mampu berpikir lagi, semangat hidupnya sudah pudar. Sedangkan tubuhnya semakin rapuh. Orang mulai bertanya-tanya, apa sakit yang dideritanya, sehingga batuknya tidak kunjung sembuh. Sedangkan badannya tinggal kulit dan tulang saja.

Terbayang di kepala Unik tentang kematian dan pertanyaan besar tentang apa yang telah diperbuat suaminya dulu. "Saya disarankan oleh teman-teman untuk tes HIV setelah saya cerita dulu suami terkena TB paru sampai tiga tahun sebelum meninggal. Setiap saya ditanya oleh orang-orang sakit apa, saya bilang bronkitis. Rupanya suami saya meninggal karena AIDS dan menular ke saya. Saya sempat akan memutuskan berhenti mengajar saat itu," ujar Unik yang berprofesi sebagai guru honorer di SDN 01 Sambirejo Semarang.

Namun atas dorongan keluarga dan rekan seprofesinya yang tak henti-hentinya, akhirnya Unik menuruti untuk memeriksakan kesehatannya. Ia meyakinkan dirinya sendiri bahwa umur di tangan Tuhan, dan setiap penyakit pasti ada obatnya.

Salah satu yang menjadikannya kembali bersemangat adalah putri semata wayangnya, Eka Yulia Silviani (10). Ia bersyukur putrinya dinyatakan negatif HIV. "Alhamdulillah teman-teman tetap merangkul saya. Mereka malah membantu saya opname di rumah sakit. Berkat dukungan dari keluarga dan teman-teman, saya berhasil melewati masa kritis pada tahun 2013 lalu. Saat itu kondisi saya stadium tiga, sudah ada anemi dan saya harus menjalani transfusi darah. Rasanya antara hidup dan mati, tidak mungkin bisa sembuh," ujar Unik.

Setelah berhasil melewati masa kritis, Unik secara teratur mengikuti kegiatan sosialisasi HIV/AIDS yang dilakukan oleh KPA Kota Searang. Perlahan namun pasti, Unik mulai menapaki kehidupan barunya. Ia bersyukur keluarga maupun rekan seprofesinya di SDN 01 Sambirejo selalu mendukungnya, sehingga ia merasa tidak dikucilkan.

"Saya kembali mengajar setelah enam bulan dinyatakan sehat. Saya mengangap semua ini adalah ujian yang harus saya hadapi. Saya yakin Tuhan itu maha adil, selalu ada kebahagian untuk saya," kata Unik.

Kini Unik menjalani hidup barunya bersama suami keduanya, Ahmadi (40). Unik tidak mengira masih ada lelaki yang sudi mempersuntingnya menjadi seorang isteri, meskipun tahu kondisinya sebagai pengidap AIDS.

Ia dipersunting oleh pria asal Mranggen Demak ini pada akhir 2013 lalu. "Saya sudah bersyukur masih diberikan umur panjang dan kesehatan. Tidak mengira, masih ada lelaki yang tulus mencintai saya dan menerima saya apa adanya. Dia hanya tersenyum ketika saya mengungkapkan bahwa saya menderita penyakit yang tidak bisa disembuhkan," ungkap Unik.

Ahmadi bagai sosok malaikat bagi Unik. Kehadirannya sebagai suaminya, seolah ingin membantah anggapan bahwa ODHA (orang dengan HIV/AIDS) tidak bisa hidup normal. Ahmadi mengaku menikahi Unik karena tulus mencintainya. Cinta yang diakuinya berawal dari rasa kasihan melihat seorang perempuan baik-baik yang menangung penderitaan akibat perbuatan suami pertamanya.

"Awalnya saya hanya berniat membantunya supaya bisa kembali tegar. Tapi kemudian timbul rasa cinta. Saya yakin semua penyakit pasti ada obatnya, saya yakin dia bisa sembuh asalkan terus berusaha dan berdoa," tutur Ahmadi yang juga seorang terapis pengobatan tradisional itu.

Divisi program KPA Kabupaten Semarang, Taufik, mengatakan, bahwa orang yang telah terinveksi HIV tetap boleh berkeluarga dan memiliki keturunan dengan aman. Risiko penularan kepada pasangan melalui hubungan seksual dapat dicegah dengan penggunan kondom dan secara rutin penderita melakukan pengobatan antirotrival (ARV).

"Calon orangtua dapat menekan risiko penularan pada anak dengan mengetahui status HIV sejak dini. Melalui program pencegahan penuaran HIV dari ibu ke anak (PPIA/PMTCT), penularan dari ibu ke anak saat kehamilan, melahirkan dan menyusui dapat ditekan samai nol persen. Dan jangan lupa selalu rutin berkonsultasi dengan dokter yang merawat," kata Taufiq.
Penulis : Kontributor Ungaran, Syahrul Munir
Editor : Glori K. Wadrianto

UNGARAN, KOMPAS.com 

Konsultasi Pengobatan
HIV/AIDS dan Kecanduan Narkoba
Hotline: 087878821248
SMS (021)9346.1965 - 081385386583
website = www.klinik-herbalis.blogspot.com

Sembuh dari HIV, Bisa Melahirkan Bayi Sehat

Kamis, 21 November 2013

Kisah Putri yang Sembuh Dari HIV dan Melahirkan Anak Sehat Tanpa Virus


TRIBUNNEWS.COM - Menjalani kehidupan yang tidak "neko-neko", Putri Cherry (33) begitu terkejut saat harus dinyatakan terinfeksi HIV. Namun dengan kegigihannya, Putri berhasil "sembuh" dari virus tersebut dan kini tengah mengandung anak ketiganya.

Perempuan cantik berkerudung ini menuturkan, awalnya dia pergi ke dokter dengan alasan sakit tenggorokan yang tidak kunjung sembuh. Dalam kunjungan tersebut, ternyata dokter menyarankannya untuk melakukan tes HIV.

"Saat itu saya kaget, tapi saya jalani saja, ternyata hasilnya positif. Meskipun CD4 saya saat itu masih terbilang tinggi yaitu sekitar 500," ujar Putri saat ditemui di pelatihan media seputar HIV dan AIDS di Tempat Kerja oleh Indonesian Business Coalition on AIDS (IBCA) di Jakarta.

CD4 merupakan istilah untuk sel darah putih limfosit dalam tubuh. CD4 menandakan ukuran daya tahan tubuh seseorang yang menjadi sasaran HIV. Pada umumnya, kadar CD4 berkisar di atas 600. 

Putri mengaku, karena CD4-nya masih terbilang tinggi, saat terdiagnosa positif, dirinya belum menjalani pengobatan antiretroviral (ARV) untuk menekan jumlah virus dalam tubuhnya. Diketahui, umumnya odha wajib menjalani pengobatan ARV jika CD4-nya sudah di bawah 350.

Belakangan Putri tahu dia terinfeksi dari suaminya saat itu. Namun dia mengaku tetap berpikir positif, meski fakta dirinya adalah odha awalnya menjadi guncangan yang besar bagi perempuan berdomisili di Jakarta ini. Putri sempat menutup diri dari dunia luar.

Ditambah lagi tak lama setelahnya, sang suami harus lebih dulu meninggalkannya. "Setelah suami saya meninggal, saya jadi merasa sendiri. Berjuang sendirian rasanya tambah berat," ujarnya. 

Beruntung, dia memiliki seorang ibu yang berhasil meyakinkannya untuk kembali menjalani hidup. Putri menceritakan, betapa sang ibu percaya kemampuan anaknya yang cantik dan muda. Putri pun kembali yakin, dia bisa melanjutkan perjuangan.

Stigma dan diskriminasi

Setelah memutuskan untuk kembali berjuang, Putri bukannya tidak menghadapi tantangan. Kembalinya Putri untuk bekerja sebagai resepsionis di sebuah hotel di Bandung pun tidak semulus yang dia duga sebelumnya.

"Begitu tahu saya adalah odha, teman-teman kerja pelan-pelan menjauh. Bos pun meminta saya untuk tidak lagi bekerja di hotel itu. Saya sudah mencoba menjelaskan, HIV tidak menular dari berbicara, berjabat tangan, atau bertukar alat makan dan kamar kecil, namun itu tetap tidak mengubah putusannya," tuturnya.

Putri pun sempat berpindah-pindah tempat kerja dari hotel ke hotel. Namun serupa seperti sebelumnya, dia selalu diberhentikan setelah diketahui odha. Putri kembali hampir putus asa.

Sampai akhirnya, dia bertemu dengan seorang pria yang bekerja di sebuah kantor otomotif di Bandung. Beberapa kali berbincang, Putri akhirnya berani mengungkap status dia sebagai odha terhadap pria itu.

Namun bukannya seperti teman-teman sebelumnya, pria itu justru malah semakin dekat dengan Putri, bahkan berniat mempersuntingnya sebagai istri. Sontak, Putri terkejut sekaligus senang, mengingat selain berstatus odha, dia juga seorang janda, namun masih ada pria baik hati yang mau meminang dan memiliki anak bersamanya.

Pria itu pula yang mendorong Putri untuk menjalani pengobatan ARV. Setelah menikah, Putri dan suaminya pun secara berkala selalu melakukan tes HIV teratur. Hingga akhirnya Putri dinyatakan "sembuh" dari HIV karena virus di dalam tubuhnya sudah tidak terdeteksi.

Penularan vertikal berhasil dicegah

Karena Putri sudah dinyatakan "sembuh", pasangan itu pun memutuskan untuk mulai menjalani program kehamilan. Namun tentu saja, program itu tetap memiliki risiko penularan vertikal dari ibu ke anaknya.

Meski begitu, hal itu tidak meruntuhkan niat memiliki momongan yang sudah bulat. Sesuai saran dokter, Putri akhirnya menjalani program preventing mother-to-child transmission (PMTCT). Program tersebut terdiri dari melanjutkan pemberian ARV selama hamil dan menyusui, tes jumlah virus (virus load atau VL) dan CD4 dalam jangka waktu tertentu, persalinan Caesar, dan menghindari menyusui untuk mencegah penularan vertikal.

Putri mengaku, walau sudah dibantu oleh pemerintah, pembiayaan yang perlu dikeluarkan tetap tidak sedikit. Untuk tes VL saja, memerlukan biaya minimal Rp 850 ribu, tes CD4 Rp 110 ribu. Belum lagi biaya karena komplikasi darah lainnya, seperti keracunan kehamilan, serta persalinan Caesar.

Begitu pula dengan pola makan yang sedikit lebih butuh perhatian dari orang lain, misalnya cara masak daging yang harus sepenuhnya matang, cuci sayuran dan buah-buahan yang harus steril, dan lain-lain. Serta, vitamin yang harus Putri minum untuk membantu daya tahan tubuhnya.

Namun upaya itu tidak sia-sia, Putri berhasil melahirkan anak pertamanya tanpa adanya penularan vertikal, begitu pula dengan anak keduanya. Dia berharap, anak ketiganya pun juga bisa demikian.

"Saya sangat bersyukur dengan apa yang saya alami dan berharap pengetahuan tentang HIV dan AIDS bisa semakin dipahami oleh lebih banyak orang supaya tidak ada lagi odha yang mendapat stigma dan diskriminasi," ujar Putri yang saat ini bekerja di sebuah restoran Korea ini.

Dia menegaskan, HIV dan AIDS bukanlah penyakit, melainkan virus dan sindrom yang menurunkan kekebalan tubuh. Itulah kenapa, odha selalu meninggal karena penyakit lain yang menggerogoti tubuhnya, bukan karena HIV itu sendiri.

Putri pun berharap, dia dan keluarganya bisa tetap melanjutkan produktivitas dengan tubuh yang sehat melalui pola hidup yang baik dan terjamin kesehatannya.
sumber : Tribunnews.com
Konsultasi Pengobatan
HIV/AIDS dan Kecanduan Narkoba
Hotline: 087878821248
SMS (021)9346.1965 - 081385386583
website = www.klinik-herbalis.blogspot.com

Jangan Takut, HIV/ AIDS bisa dikendalikan dan diobati

Rabu, 02 Mei 2012

Marwah dan Selvi memberikan testimoni didampingi oleh petugas UPIPI




Baru-baru ini kita memperingati Hari Kartini yang jatuh pada tanggal 21 April 2012. Kartini merupakan sosok yang identik dengan perjuangan kaum wanita. Perjuangan itu belum berakhir dan terus akan berlanjut.

Marwah, mungkin salah satu sosok yang bisa kita teladani. Dia mungkin hanya seorang ibu rumah tangga namun perjuangannya untuk dapat bertahan hidup sungguh luar biasa.Â

Pada tahun 2006, enam bulan usai suaminya meninggal dia didiagnosa mengidap HIV.

Awalnya dia terserang infeksi mulut yang tak kunjung sembuh. Akibat infeksi mulut ini dia tidak bisa makan hingga tubuhnya kurus kering dengan berat badan turun jadi 33 kg dan daya tahan tubuhnya hanya 97. Setelah melakukan tes HIV ternyata dirinya positif.

Sungguh dia kaget dan bingung, karena selama ini dia tidak pernah mendekati hal-hal yang memicu tertularnya penyakit HIV. Setelah mengetahui bahwa penyakit tersebut ditularkan melalui suaminya yang telah meninggal dia pun pasrah.

Beruntung dia memiliki anak dan keluarga yang sangat mendukung dirinya dalam melewati masa-masa sulit. Demi anak satu-satunya tersebut pula, dia pun bertahan dan berjuang melawan HIV di dalam tubuhnya.

Perjuangan Marwah akhirnya membuahkan hasil. Daya tahan tubuhnya meningkat menjadi 530 dan berat badannya 60 kg. Dia pun kini bergabung dengan salah satu lembaga yang bergerak di bidang HIV/AIDS untuk membantu pasien HIV/ AIDS, terutama kaum perempuan sepertinya.Â

“Sekarang virus HIV di dalam di tubuhnya (Marwah) hampir tidak terlihat,” imbuh dr. Erwin Astha, Sp.PD, usai bu Marwah menceritakan kisahnya saat peringatan Hari Kartini yang diadakan oleh Dharma Wanita Persatuan RSUD Dr. Soetomo – FK Unair serta IIDI (Ikatan Istri Dokter Indonesia) cabang Surabaya.

Acara yang diselenggarakan di Aula FK Unair pada 25 April 2012 ini mengambil tema “Dengan Semangat Kartini Kita Tingkatkan Kesehatan serta Perilaku Hidup Bersih dan Sehat”. Menurut Ketua Panitia, Ibu Dientje, tema ini sengaja diambil karena melalui perilaku hidup bersih, sehat, dan benar maka penyakit infeksi dapat dicegah.

“Tak hanya perilaku hidup bersih dan sehat. Perilaku hidup yang benar juga perlu untuk mencegah penularan HIV – AIDS,” tambah dr. Erwin.

HIV bisa diobati

Menurutnya kisah Marwah ini selain menunjukkan kekuatan seorang perempuan juga menghapus stigma di masyarakat yang menyatakan bahwa HIV tidak dapat diobati.

HIV dan AIDS adalah dua hal yang berbeda. HIV adalah singkatan dari Human Immunodeficiency Virus yang artinya virus ini menginfeksi manusia dan akan menyebabkan penurunan kekebalan tubuh.

Sedangkan AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) merupakan sekumpulan gejala penyakit (syndrome) yang muncul akibat menurunnya kekebalan tubuh dalam melawan penyakit, yang disebabkan karena infeksi HIV.

Jadi, HIV merujuk pada virusnya (penyebab) dan AIDS adalah penyakit (akibat) yang dapat timbul akibat infeksi virus HIV.

Bercermin dari kisah Marwah di atas dapat kita simpulkan bahwa dengan terapi pengobatan yang baik, seseorang dapat hidup bertahun-tahun dengan HIV dalam tubuhnya tanpa berkembang menjadi AIDS.

Pencegahan HIV/AIDS

Saat ini kasus AIDS di Jawa Timur menduduki peringkat kedua se-Indonesia dengan jumlah 4508 kasus. Selain jumlah kasus yang terus bertambah, masalah yang dihadapi sekarang ini adalah masih kurangnya kesadaran masyarakat, terutama yang rentan tertular HIV/AIDS, untuk melakukan tes HIV.

“Selama ini pasien yang datang sudah menjadi pasien HIV/AIDS stadium 3-4,” ujar dr. Erwin.

Sebab itu untuk mencegah bertambahnya jumlah kasus HIV/AIDS perlu diadakan deteksi dini sesuai dengan program nasional yang sudah mulai bergeser dari VCT ke PITC.   Â

Saat menggunakan program VCT (Voluntary Counselling and Testing) dimana dokter atau konselor menunggu pasien sadar untuk mau periksa. Cara ini dianggap lambat dan kurang efisien.

Sedangkan pada program PITC (Provider Initiated Testing and Counselling) tim medis yang akan terjun langsung dan aktif menawarkan pemeriksaan dan perawatan HIV/ AIDS kepada orang yang rentan tertular HIV/ AIDS dan sasaran wajib tes HIV.

Sasaran wajib tes HIV yang dimaksudkan adalah :

1.Pasien IMS (Infeksi Menular Seksual)
2.Pasien TB (Tuberkulosis)
3.Pasien Metadon
4.Ibu Hamil

Melalui deteksi dini ini diharapkan para pasien HIV dapat segera ditemukan saat masih stadium awal. Dengan begitu mereka dapat segera diobati sehingga kemungkinan mereka untuk hidup layaknya orang normal lebih besar dan yang terpenting tidak menularkan virus kepada orang lain melalui perilaku hidup benar.

Agar program PITC ini dapat berjalan dengan baik maka dibutuhkan tim medis yang handal. Tim medis ini terdiri dari perawat, dokter, hingga dokter gigi. Sebab itu untuk meningkatkan kemampuan tim medis diperlukan pelatihan-pelatihan seperti workshop yang akan diadakan oleh Instalasi/ SMF Kesehatan Gigi dan Mulut dan UPIPI (Unit Perawatan Intermediet Penyakit Infeksi) RSUD Dr. Soetomo.

“Tujuan utama workshop ini agar dokter mengerti tatalaksana menemukan kasus,” jelas dr. Erwin yang juga Kepala UPIPI saat konferensi pers (12 April 2012).

Workshop yang bertema “Peran Dokter Gigi pada Deteksi Dini HIV/ AIDS sebagai Upaya menurunkan Stigma & Diskriminasi menuju Patient and Doctor Safety” ini akan diadakan dalam dua angkatan yakni pada tanggal 24-25 Mei 2012 dan 18-19 Oktober 2012. (kyn)

Keterangan foto :
Marwah dan Selvi memberikan testimoni didampingi oleh petugas UPIPI

sumber : http://rsudrsoetomo.jatimprov.go.id/id/index.php/berita/artikel/606-jangan-takut-hiv-aids-dapat-dikendalikan-dan-diobati

Pasang Iklan Anda Di Sini!

OpenStage at Cibitung

 
Support : Webrizal | Tutorial | My Opini
Copyright © 2009-2014. Comedy Store Indonesia - All Rights Reserved
Template Recreated by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger