Hotline: 081.385.386.583 - 0882.9685.0453 - 0895.6131.08911

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

16 Gejala Tertular atau Terinfeksi HIV/AIDS

Kamis, 05 Februari 2015

Menurut pengetahuan para ahli kesehatan umumnya di dunia pada saat ini, Virus HIV (Human Immunodeficiency Virus) hingga kini belum bisa diobati, penderitanya hanya diberikan obat-obat penguat tubuh. Orang yang berisiko terkena HIV adalah jika sering melakukan seks tanpa pengaman dengan lebih dari satu pasangan atau menggunakan obat-obat terlarang dengan suntikan.

"Pada tahap awal infeksi HIV, gejala yang paling umum pun tidak ada," kata Michael Horberg, MD, direktur HIV/AIDS di Kaiser Permanente, Oakland, California seperti yang dikutip dari Health.

Karena gejala awalnya tidak ada, orang-orang yang berisiko tersebut kadang tidak tahu tubuhnya sudah dimasuki virus HIV. Dalam 1 atau 2 bulan virus HIV memasuki tubuh. Sebesar 40 hingga 90 persen dari orang mengalami gejala seperti flu dapat dikenal sebagai sindrom retroviral akut (ARS). Tetapi kadang-kadang gejala HIV tidak muncul selama beberapa tahun bahkan beberapa dekade setelah infeksi.

Berikut adalah beberapa tanda-tanda bahwa mungkin seseorang positif terkena HIV, antara lain:

1. Demam
Salah satu tanda-tanda pertama ARS adalah demam ringan, sampai sekitar 39 derajat C (102 derajat F). Demam sering disertai dengan gejala ringan lainnya, seperti kelelahan, pembengkakan pada kelenjar getah bening, dan sakit tenggorokan.

"Pada titik ini virus bergerak ke dalam aliran darah dan mulai mereplikasi dalam jumlah besar. Sehingga akan ada reaksi inflamasi oleh sistem kekebalan tubuh," kata Carlos Malvestutto, MD, instruktur penyakit menular dan imunologi dari department of medicine di NYU School of Medicine, New York.

2. Kelelahan
Respon inflamasi yang dihasilkan oleh sistem kekebalan tubuh juga dapat menyebabkan lelah dan lesu. Kelelahan dapat menjadi tanda awal dan tanda lanjutan dari HIV.

3. Pegal, nyeri otot dan sendi, pembengkakan kelenjar getah bening ARS sering menyerupai gejala flu, mononucleosis, infeksi virus atau yang lain, bahkan sifilis atau hepatitis. Hal tersebut memang tidak mengherankan. Banyak gejala penyakit yang mirip bahkan sama, termasuk nyeri pada persendian dan nyeri otot, serta pembengkakan kelenjar getah bening.

Kelenjar getah bening merupakan bagian dari sistem kekebalan tubuh dan cenderung akan meradang bila ada infeksi. Kelenjar getah bening berada di pangkal paha leher ketiak, dan lain-lain.

4. Sakit tenggorokan dan sakit kepala
"Seperti gejala penyakit lain, sakit tenggorokan, dan sakit kepala sering dapat merupakan ARS," kata Dr. Horberg. Jika memiliki risiko tinggi HIV, maka melakukan tes HIV adalah ide yang baik. Karena HIV paling menular pada tahap awal.

5. Ruam kulit
Ruam kulit dapat terjadi lebih awal atau terlambat dalam perkembangan HIV/AIDS.

6. Mual, muntah dan diare
Sekitar 30 hingga 60 persen dari orang dengan HIV memiliki gejala jangka pendek seperti mual, muntah, atau diare pada tahap awal HIV, kata Dr. Malvestutto. Gejala tersebut juga dapat muncul sebagai akibat dari terapi antiretroviral, biasanya sebagai akibat dari infeksi oportunistik.

"Diare yang tak henti-hentinya dan tidak merespon obat mungkin merupakan indikasi. Atau gejala dapat disebabkan oleh organisme yang biasanya tidak terlihat pada orang dengan sistem kekebalan tubuh yang baik," kata Dr. Horberg.

7. Penurunan berat badan
"Jika penderita HIV sudah kehilangan berat badan, berarti sistem kekebalan tubuh biasanya sedang menurun," kata Dr. Malvestutto.

8. Batuk kering
Batuk kering dapat merupakan tanda pertama seseorang terkena infeksi HIV. Batuk tersebut dapat berlangsung selama 1 tahun dan terus semakin parah.

9. Pneumonia
Batuk dan penurunan berat badan juga mungkin pertanda infeksi serius yang disebabkan oleh kuman yang tidak akan mengganggu jika sistem kekebalan tubuh bekerja dengan baik. "Ada banyak infeksi oportunistik yang berbeda dan masing-masing dapat datang dengan waktu yang berbeda," kata Dr. Malvestutto.

Pneumonia merupakan salah satu infeksi oportunistik, sedangkan yang lainnya termasuk toksoplasmosis, infeksi parasit yang mempengaruhi otak, cytomegalovirus, dan infeksi jamur di rongga mulut.

10. Keringat malam
Sekitar setengah dari orang yang terinfeksi HIV akan berkeringat di malam hari selama tahap awal infeksi HIV, kata Dr. Malvestutto. Keringat malam terjadi bahkan saat tidak sedang melakukan aktivitas fisik apapun.

11. Perubahan pada kuku
Tanda lain dari infeksi HIV akhir adalah perubahan kuku, seperti membelah, penebalan dan kuku yang melengkung, atau perubahan warna (hitam atau coklat berupa garis vertikal maupun horizontal). Seringkali hal tersebut disebabkan infeksi jamur, seperti kandida.

"Pasien dengan sistem kekebalan yang menurun akan lebih rentan terhadap infeksi jamur," kata Dr. Malvestutto.

12. Infeksi Jamur
Infeksi jamur yang umum pada tahap lanjut adalah thrush, infeksi mulut yang disebabkan oleh Candida, yang merupakan suatu jenis jamur. "Candida merupakan jamur yang sangat umum dan salah satu yang menyebabkan infeksi jamur pada wanita."

"Candida cenderung muncul di rongga mulut atau kerongkongan, sehingga akan sulit untuk menelan," kata Dr. Malvestutto.

13. Kebingungan atau kesulitan berkonsentrasi
Masalah kognitif dapat menjadi tanda demensia terkait HIV, yang biasanya terjadi lambat dalam perjalanan penyakit. Selain kebingungan dan kesulitan berkonsentrasi, demensia terkait AIDS mungkin juga melibatkan masalah memori dan masalah perilaku seperti marah atau mudah tersinggung.

Bahkan mungkin termasuk perubahan motorik seperti, menjadi ceroboh, kurangnya koordinasi, dan masalah dengan tugas yang membutuhkan keterampilan motorik halus seperti menulis dengan tangan.

14. Herpes mulut dan herpes kelamin
Cold sores (herpes mulut) dan herpes kelamin (herpes genital) dapat menjadi tanda dari ARS dan stadium infeksi HIV. Herpes tersebut juga dapat menjadi faktor risiko untuk tertular HIV.

Karena herpes kelamin dapat menyebabkan borok yang memudahkan virus HIV masuk ke dalam tubuh selama hubungan seksual. Orang-orang yang terinfeksi HIV juga cenderung memiliki risiko tinggi terkena herpes karena HIV melemahkan sistem kekebalan tubuh.

15. Kesemutan dan kelemahan
Akhir HIV juga dapat menyebabkan mati rasa dan kesemutan di tangan dan kaki. Hal ini disebut neuropati perifer, yang juga terjadi pada orang dengan diabetes yang tidak terkontrol. "Hal tersebut menunjukkan kerusakan pada saraf," kata Dr. Malvestutto.

Gejala tersebut dapat diobati dengan obat-obatan penghilang rasa sakit yang dijual bebas dan antikejang seperti gabapentin.

16. Ketidakteraturan menstruasi
Penyakit HIV tahap lanjut tampaknya dapat meningkatkan risiko mengalami ketidakteraturan menstruasi, seperti periode yang lebih sedikit dan lebih jarang. Perubahan tersebut mungkin lebih berkaitan dengan penurunan berat badan dan kesehatan yang buruk dari wanita dengan tahap akhir infeksi HIV.

Infeksi HIV juga telah dikaitkan dengan usia menopause yang lebih dini, yaitu sekitar 47-48 tahun bagi perempuan yang terinfeksi HIV dibandingkan dengan perempuan yang tidak terinfeksi sekitar usia 49-51 tahun.

KLAMIDIA, Infeksi Alat Kelamin

Minggu, 06 April 2014

  1. Identifikasi
Infeksi melalui hubungan seksual, pada pria muncul sebagai uretritis; dan pada wanita sebagai servisitis mukopurulen. Manifestasi klinis dari uretritis kadang sulit dibedakan dengan gonorrhea dan termasuk adanya discharge mukopurulen dalam jumlah sedikit atau sedang, gatal pada uretra dan rasa panas ketika buang air kecil.

Infeksi tanpa gejala bisa ditemukan pada 1 – 25 % pria dengan aktivitas seksual aktif. Komplikasi dan gejala sisa mungkin terjadi dari infeksi uretra pada pria berupa epididimitis, infertilitas dan sindroma Reiter. Pada pria homoseksual, hubungan seks anorektal bisa menyebabkan proktitis klamidia.

Pada wanita, manifestasi klinis mungkin sama dengan gonorrhea, dan seringkali muncul sebagai discharge endoservik mukopurulen, disertai dengan pembengkakan, eritema dan mudah mengakibatkan perdarahan endoservik disebabkan oleh peradangan dari epitel kolumnair endoservik. 

Namun, 70 % dari wanita dengan aktivitas seksual aktif yang menderita klamidia, biasanya tidak menunjukkan gejala. Komplikasi dan gejala sisa berupa salpingitis dengan risiko infertilitas, kehamilan diluar kandungan atau nyeri pelvis kronis.

Infeksi kronis tanpa gejala dari endometrium dan saluran tuba bisa memberikan hasil yang sama. Manifestasi klinis lain namun jarang terjadi seperti bartolinitis, sindroma uretral dengan disuria dan pyuria, perihepatitis (sindroma Fitz-Hugh-Curtis) dan proktitis.

Infeksi yang terjadi selama kehamilan bisa mengakibatkan ketuban pecah dini dan menyebabkan terjadinya kelahiran prematur, serta dapat menyebabkan konjungtivitis dan radang paru pada bayi baru lahir. Infeksi klamidia endoserviks meningkatkan risiko terkena infeksi HIV.

Infeksi klamidia bisa terjadi bersamaan dengan gonorrhea, dan tetap bertahan walaupun gonorrhea telah sembuh. Oleh karena servisitis yang disebabkan oleh gonokokus dan klamidia sulit dibedakan secara klinis maka pengobatan untuk kedua mikroorganisme ini dilakukan pada saat diagnosa pasti telah dilakukan. Namun pengobatan terhadap gonorrhea tidak selalu dilakukan jika diagnosa penyakit disebabkan C. trachomatis.

Diagnosa uretritis non gonokokus (UNG) atau diagnosa servisitis non gonokokus ditegakkan biasanya didasarkan pada kegagalan menemukan Neisseria gonorrhoeae melalui sediaan apus dan kultur.

Klamidia sebagai penyebab dipastikan dengan pemeriksaan preparat apus yang diambil dari uretra atau endoserviks atau dengan tes IF langsung dengan antibodi monoklonal, EIA, Probe DNA, tes amplifikasi asam nukleus (Nucleic Acid Amplification Test, NAAT), atau dengan kultur sel.

NAAT bisa dilakukan dengan menggunakan spesimen urin. Organisme intraseluler sulit sekali dihilangkan dari discharge. Untuk penyakit lain, lihat uretritis non gonokokus dibawah.

2. Penyebab penyakit.
Chlamydia trachomatis, imunotipe D sampai dengan K, ditemukan pada 35 – 50 % dari kasus uretritis non gonokokus di AS. 100

3. Distribusi penyakit.
Tersebar diseluruh dunia, di AS, Kanada, Australia dan Eropa, penyakit ini meningkat terus selama 2 dekade terakhir.

4. Reservoir : manusia

5. Cara penularan : hubungan seks.

6. Masa inkubasi : Tidak jelas, mungkin 7 – 14 hari atau lebih panjang.

7. Masa penularan : Tidak diketahui. Relaps bisa terjadi.

8. Kerentanan dan kekebalan.
Semua usia rentan terhadap penyakit ini. Tidak ditemukan kekebalan setelah infeksi, imunitas seluler bersifat imunotipe spesifik.

9. Cara-cara pemberantasan.
A. Cara pencegahan.
  1. Penyuluhan kesehatan dan pendidikan seks : sama seperti sifilis (lihat Sifilis, 9A) dengan penekanan pada penggunaan kondom ketika melakukan hubungan seksual dengan wanita bukan pasangannya.
  2. Pemeriksaan pada remaja putri yang aktif secara seksual harus dilakukan secara rutin. Pemeriksaan perlu juga dilakukan terhadap wanita dewasa usia dibawah 25 tahun, terhadap mereka yang mempunyai pasangan baru atau terhadap mereka yang mempunyai beberapa pasangan seksual dan atau yang tidak konsisten menggunakan alat kontrasepsi. Tes terbaru untuk infeksi trachomatis dapat digunakan untuk memeriksa remaja dan pria dewasa muda dengan spesimen urin.
B. Pengawasan penderita, kontak dan lingkungan sekitar.
  1. Laporan pada instansi kesehatan setempat; laporan kasus wajib dilakukan dibanyak negara bagian di AS, Kelas 2B (lihat Tentang pelaporan penyakit menular).
  2. Isolasi: tindakan kewaspadaan universal, bisa diterapkan untuk pasien rumah sakit. Pemberian terapi antibiotika yang tepat menjamin discharge tidak infektif; penderita sebaiknya menghindari hubungan seksual hingga kasus indeks, penderita atau pasangannya telah selesai diberi pengobatan yang lengkap.
  3. Disinfeksi serentak: Pembuangan benda-benda yang terkontaminasi dengan discharge uretra dan vagina, harus ditangani dengan seksama.
  4. Karantina: tidak dilakukan.
  5. Imunisasi kontak: tidak dilakukan.
  6. Investigasi kontak dan sumber infeksi. Pengobatan profilaktik diberikan terhadap pasangan seks lain dari penderita, dan pengobatan yang sama diberikan kepada pasangan tetap. Bayi yang dilahirkan dari ibu yang terinfeksi dan belum mendapat pengobatan sistemik, foto thorax perlu (101) diambil pada usia 3 minggu dan diulang lagi sesudah 12 – 18 minggu untuk mengetahui adanya pneumonia klamidia sub klinis.
  7. Pengobatan spesifik: Doksisiklin (PO), 100 mg 2 kali sehari selama 7 hari atau tetrasiklin (PO), 500 mg, 4 x/hari selama 7 hari. Eritromisin adalah obat alternatif dan obat pilihan bagi bayi baru lahir dan untuk wanita hamil atau yang diduga hamil. Azitromisin (PO) 1 g dosis tunggal sehari juga efektif.
C. Penanggulangan Wabah: tidak ada.
D. Implikasi bencana: tidak ada.
E. Tindakan internasional: tidak ada.

OBAT HERBAL KLAMIDIA DAN GONORRHEA
Herbal Alami, Ramuan Tradisional. BPOM RI No.POM TI104242341.
Aman Dan Tanpa Efek Samping.

Penyakit Kelamin WanitaKlamidia (Chlamydia) dan gonore adalah penyakit menular seksual yang sangat umum (PMS) yang disebabkan oleh bakteri. Di Amerika Serikat, sekitar 3 juta orang mendapatkan klamidia (Chlamydia) setiap tahun dan sekitar 650.000 orang mendapatkan gonore. Klamidia (Chlamydia)  dan gonore dapat menginfeksi baik pria maupun wanita.

Obat yang tepat untuk mengatasi penyakit gonore dan klamidia secara alami bisa anda coba dengan mengkonsumsi ramuan tradisional TricaJus. Yang terbuat dari bahan herbal alami tanpa terkontaminasi dengan campuran bahan kimia sedikitpun. Zat efektif yang terdapat dalam TricaJus untuk mengatasi gonore dan klamidia yaitu senyawa alami Azadirachtin. Senyawa ini berfungsi baik sebagai anti parasit, anti bakteri, anti kuman, anti virus, dipercaya bekerja efektif dalam menghambat, menghentikan, membunuh, dan membuang bakteri Neisseria Gonorrhoaea.

Selain itu, Tricajus juga sangat bermanfaat sebagai anti Inflamasi (anti peradangan), sehingga secara alami dapat memperbaiki jaringan kulit dan sel-sel tubuh yang rusak akibat perkembang biakan kuman Neisseria Gonorhoaea.

TricaJus aman dan tanpa efek samping, serta tidak menimbulkan efek ketergantungan bila dikonsumsi dalam jangka panjang. Berstandar Internasional(GMP) dan terdaftar di BPOM RI dengan No.POM TI104242341.

Pengiriman ke-Seluruh Indonesia, dimana pembayaran bisa berlaku setelah barang sampai. Untuk informasi pemesanan selengkapnya klik saja >>
Cara Pemesanan TricaJus


Konsultasi Pengobatan & Pemesanan
HIV/AIDS dan Klamidia/Gonorrhea
Hotline/SMS: 087878821248
DirectCall (021)9346.1965
WhatsApp: 081385386583

Pedoman WHO Terbaru Penanganan HIV-AIDS

Minggu, 30 Juni 2013

Pesan WHO: Pasien HIV/AIDS harus lebih cepat berobat

Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan pihak medis atau dokter mampu menyelamatkan lebih dari 3 juta nyawa di dunia pada tahun 2025 jika menawarkan obat AIDS kepada pengidap HIV lebih cepat, segera setelah mereka diketahui positif mengidap virus mematikan itu.

WHO mengatakan mengobati pengidap HIV lebih cepat bisa membuat pasien lebih sehat dan menurunkan jumlah virus didalam darah (Credit: ABC licensed).

Meskipun saat ini dibanyak negara sudah menyediakan akses obat AIDS generik yang murah, yang  memungkinkan lebih banyak pengidap HIV yang memperoleh pengobatan,  namun  petugas kesehatan terutama di negara miskin dengan anggaran kesehatan yang terbatas saat ini cenderung menunda menyarankan pengobatan hingga infeksi berlanjut.

dalam pedoman terbaru, WHO mendorong otoritas  kesehatan di seluruh dunia untuk mulai memberikan pengobatan bagi penderita HIV dewasa segera setelah tes yang disebut dengan CD4  menunjukan kadar virus dalam darah mencapai 500 sel per milimeter kubik atau kurang dari itu. Pada standar WHO sebelumnya, pengobatan baru ditawarkan ketika tes CD4 menyatakan level sel sebanyak 350 atau lebih sedikit, dengan kata  lain ketika virus sudah lebih dahulu merusak sistem imun pasien.

Petunjuk ini juga  menyatakan wanita hamil dan menyusui dan anak-anak dibawah usia 5 tahun yang mengidap HIV harus mendapatkan pengobatan secepatnya, berapapun level CD4 mereka, dan seluruh pasien HIV  harus secara reguler dimonitor untuk mengawasi level “kandungan virus” mereka.

Pengawasan ini  juga memungkinkan pengawas kesehatan mengetahui apakah pengobatan yang diberikan bisa  menurunkan jumlah virus di dalam darah. Dan bisa mendorong pasien untuk memakan obat karena mereka bisa mengetahui hasil positif dari pengobatannya.

Petunjuk baru ini disusun berdasarkan sejumlah studi yang menyatakan mengobati pasien HIV lebih awal bisa membuat pasien tetap sehat dalam jangka waktu yang cukup lama dan juga bisa menurunkan jumlah virus didalam darah  dan secara siginifikan memotong potensi pasien menularkan virusnya ke orang lain.

“Kita hendak meningkatkan harapan hidup 26 juta penderita HIV. Dan ini bukan hanya untuk membuat mereka tetap sehat dan  hidup tapi juga menahan laju transmisi lebih banyak,” kata Direktur Jendral Who bidang HIV/Aids Gottfried Hirnschall.

Saat ini tercatat, sekitar 34 juta orang di dunia mengidap Virus HIV penyebab Aids dan kebanyakan dari mereka hidup dalam kemiskinan dan di negara berkembang. Sub-Sahara Afrika sejauh ini  merupakan kawasan yang paling banyak terpapar HIV/Aids.

Tapi epidemi virus yang telah membunuh lebih dari 25 juta orang didunia dalam 30 tahun terakhir sejak Virus HIV pertama kali ditemukan, sejauh ini menunjukan gejala penurunan.

Program HIV/Aids PBB , UNAIDS mengatakan angka kematian penyakit ini pada tahun 2011 tercatat sebanyak 1,7 juta kematian. Angka ini menunjukan penurunan dibandingkan tahun 2005 yang mencapai puncak tertinggi dengan 2,3 juta kematian ataupun pada tahun 2010 lalu yang tercatat sebanyak 1,8 juta.

Data WHO terbaru juga menunjukan peningkatan jumlah pengidap HIV  yang mendapatkan pengobatan. Tahun 2012 tercatat 9,7 juta orang.  Angka ini meningkat  300.000 orang lebih banyak dibandingkan satu dekade sebelumnya.

Perusahaan obat generic asal India saat ini menjadi pensuplai utama obat anti retroviral bagi pengidap HIV ke Afrika dan banyak negara miskin lainnya.

Kritis dukungan pendanaan global

Direktur Jendral WHO, Margaret Chan mengatakan peningkatan yang dramatis terhadap pengobatan HIV menghadirkan harapan suatu saat nanti masyarakat dunia bisa melumpuhkan penyakit HIV/Aids.

“Dengan hampir 10 juta jiwa saat ini yang mengkonsumsi obat anti retroviral, kita melihat peluang kearah sana. Hal itu tidak terbersit beberapa tahun lalu. Kita harus memanfaatkan momentum ini untuk menghentikan epidemi HIV,” katanya.

Koordinator   NGO Medecins Sans Frontieres (MSF) Afrika Selatan Gilles van Cutsem, menyambut positif petunjuk  ini namun mengingatkan soal uang dan kemauan politik untuk mengimplementasikan aturan baru ini.

“Sekarang bukan waktunya lagi untuk berkecil hati tapi sebaliknya harus semangat maju melawan HIV/AIDS.  Jadi sangat penting untuk memomibiliasi dukungan internasional, termasuk pendanaan program pengobatan HIV dari donor pemerintah.

Direktur Jendral WHO bidang HIV/AIDS,  Gottfried Hirnschall mengatakan untuk bisa menyediakan obat bagi tambahan pasien HIV/AIDS sesuai dengan petunjuk WHO yang  baru ini membutuhkan kenaikan 10% dari 24 milyar Dolar dana  yang saat ini dibutuhkan untuk mendanai program melawan HIV/Aids di dunia.

sumber : Radio Australia


Konsultasi Pengobatan

HIV/AIDS dan Kecanduan Narkoba

Hotline: 087878821248 
SMS (021)9346.1965 - 081385386583
 

A Brief of Health

Selasa, 08 Januari 2008

Everybody talks about e-health these days, but few people have come up with a clear definition of this comparatively new term.

Barely in use before 1999, this term now seems to serve as a general "buzzword," used to characterize not only "Internet medicine", but also virtually everything related to computers and medicine.

The term was apparently first used by industry leaders and marketing people rather than academics.

They created and used this term in line with other "e-words" such as e-commerce, e-business, e-solutions, and so on, in an attempt to convey the promises, principles, excitement (and hype) around e-commerce (electronic commerce) to the health arena, and to give an account of the new possibilities the Internet is opening up to the area of health care. Intel, for example, referred to e-health as "a concerted effort undertaken by leaders in health care and hi-tech industries to fully harness the benefits available through convergence of the Internet and health care." Because the Internet created new opportunities and challenges to the traditional health care information technology industry, the use of a new term to address these issues seemed appropriate.

These "new" challenges for the health care information technology industry were mainly (1) the capability of consumers to interact with their systems online (B2C = "business to consumer"); (2) improved possibilities for institution-to-institution transmissions of data (B2B = "business to business"); (3) new possibilities for peer-to-peer communication of consumers (C2C = "consumer to consumer").

So, how can we define e-health in the academic environment? One JMIR Editorial Board member feels that the term should remain in the realm of the business and marketing sector and should be avoided in scientific medical literature and discourse. However, the term has already entered the scientific literature (today, 76 Medline-indexed articles contain the term "e-health" in the title or abstract).

What remains to be done is - in good scholarly tradition - to define as well as possible what we are talking about. However, as another member of the Editorial Board noted, "stamping a definition on something like e-health is somewhat like stamping a definition on 'the Internet': It is defined how it is used - the definition cannot be pinned down, as it is a dynamic environment, constantly moving."

It seems quite clear that e-health encompasses more than a mere technological development.
I would define the term and concept as follows:
e-health is an emerging field in the intersection of medical informatics, public health and business, referring to health services and information delivered or enhanced through the Internet and related technologies. In a broader sense, the term characterizes not only a technical development, but also a state-of-mind, a way of thinking, an attitude, and a commitment for networked, global thinking, to improve health care locally, regionally, and worldwide by using information and communication technology.

This definition hopefully is broad enough to apply to a dynamic environment such as the Internet and at the same time acknowledges that e-health encompasses more than just "Internet and Medicine".

As such, the "e" in e-health does not only stand for "electronic," but implies a number of other "e's," which together perhaps best characterize what e-health is all about (or what it should be). Last, but not least, all of these have been (or will be) issues addressed in articles published in the Journal of Medical Internet Research.

Source: http://www.jmir.org/2001/2/e20/

Cancer

Detailed Guide: Breast Cancer
What Is Breast Cancer?
Breast cancer is a malignant tumor that starts from cells of the breast. A malignant tumor is a group of cancer cells that may invade surrounding tissues or spread (metastasize) to distant areas of the body. The disease occurs almost entirely in women, but men can get it, too. The remainder of this document refers only to breast cancer in women. For information on breast cancer in men, see the American Cancer Society's document, Breast Cancer in Men.

Normal Breast Structure
In order to understand breast cancer, it is helpful to have some basic knowledge about the normal structure of the breasts.

The female breast is made up mainly of lobules (milk-producing glands), ducts (tiny tubes that carry the milk from the lobules to the nipple), and stroma (fatty tissue and connective tissue surrounding the ducts and lobules, blood vessels, and lymphatic vessels).

Most breast cancers begin in the cells that line the ducts (ductal cancers); some begin in the cells that line the lobules (lobular cancers), and the rest in other tissues.

The Lymph (Lymphatic) System
The lymph system is important to understand because it is one of the ways in which breast cancers can spread. This system has several parts.

Lymph nodes are small, bean-shaped collections of immune system cells that are connected by lymphatic vessels. Lymphatic vessels are like small veins, except that they carry a clear fluid called lymph (instead of blood) away from the breast. Lymph contains tissue fluid and waste products, as well as immune system cells (cells that are important in fighting infections). Breast cancer cells can enter lymphatic vessels and begin to grow in lymph nodes.

Most lymphatic vessels in the breast connect to lymph nodes under the arm (axillary nodes). Some lymphatic vessels connect to lymph nodes inside the chest (internal mammary nodes) and those either above or below the collarbone (supraclavicular or infraclavicular nodes).

Knowing if the cancer cells have spread to lymph nodes is important because if it has, there is a higher chance that the cells could have also gotten into the bloodstream and spread (metastasized) to other sites in the body. The more lymph nodes that are involved with the breast cancer, the more likely it is that the cancer may be found in other organs as well. This is important to know because it could affect your treatment plan. But not all women with lymph node involvement develop metastases, and it is not unusual for a woman to have negative lymph nodes and later develop metastases.

Benign Breast Lumps
Most breast lumps are not cancerous; that is, they are benign. Still, some need to be sampled and viewed under a microscope to prove they are not cancer.

Fibrocystic Changes
Most lumps turn out to be fibrocystic changes. The term "fibrocystic" refers to fibrosis and cysts. Fibrosis is the formation of fibrous (or scar-like) tissue, and cysts are fluid-filled sacs. Fibrocystic changes can cause breast swelling and pain. This often happens just before a period is about to begin. Your breasts may feel lumpy and, sometimes, you may notice a clear or slightly cloudy nipple discharge.

Other Benign Breast Lumps
Benign breast tumors such as fibroadenomas or intraductal papillomas are abnormal growths, but they are not cancer and cannot spread outside of the breast to other organs. They are not life threatening. Still, some benign breast conditions are important because women with these conditions have a higher risk of developing breast cancer.

For more information see the section, "What Are the Risk Factors for Breast Cancer?" and the American Cancer Society document, Noncancerous Breast Conditions.

Breast Cancer General Terms
It is important to understand some of the key words used to describe breast cancer.

Carcinoma
This is a term used to describe a cancer that begins in the lining layer (epithelial cells) of organs such as the breast. Nearly all breast cancers are carcinomas (either ductal carcinomas or lobular carcinomas).

Adenocarcinoma
An adenocarcinoma is a type of carcinoma that starts in glandular tissue (tissue that makes and secretes a substance). The ducts and lobules of the breast are glandular tissue (they make breast milk), so cancers starting in these areas are sometimes called adenocarcinomas.

Carcinoma In Situ
This term is used for the early stage of cancer, when it is confined to the layer of cells where it began. Specifically in breast cancer, in situ means that the cancer cells remain confined to ducts (ductal carcinoma in situ) or lobules (lobular carcinoma in situ). They have not invaded into deeper tissues in the breast or spread to other organs in the body, and are sometimes referred to as non-invasive breast cancers.

Invasive (Infiltrating) Carcinoma
An invasive cancer is one that has already invaded beyond the layer of cells where it started (as opposed to carcinoma in situ). Most breast cancers are invasive carcinomas -- either invasive ductal carcinoma or invasive lobular carcinoma.

Sarcoma
Sarcomas are cancers that start from connective tissues such as fat tissue or blood vessels. Sarcomas of the breast are rare.

Types of Breast Cancers
There are several types of breast cancer, although some of them are quite rare. It is not unusual for a single breast tumor to be a combination of these types and to have a mixture of invasive and in situ cancer.

Ductal Carcinoma In Situ (DCIS)
Ductal carcinoma in situ (also known as intraductal carcinoma) is the most common type of non-invasive breast cancer. DCIS means that the cancer cells are inside the ducts but have not spread through the walls of the ducts into the surrounding breast tissue.

About 1 out of 5 new breast cancer cases will be DCIS. Nearly all women diagnosed at this early stage of breast cancer can be cured. A mammogram is often the best way to find DCIS early.

When DCIS is diagnosed, the pathologist (a doctor specializing in diagnosing disease from tissue samples) will look for an area of dead or dying cancer cells, called tumor necrosis, within the tissue sample. If necrosis is present, the tumor is likely to be more aggressive. The term comedocarcinoma is often used to describe DCIS with necrosis.


Konsultasi Pengobatan

HIV/AIDS dan Kecanduan Narkoba

Hotline: 087878821248 
SMS (021)9346.1965 - 081385386583

Cancer: Jenis-Jenis Kanker

Senin, 07 Januari 2008

Detailed Guide: Breast Cancer
What Is Breast Cancer?

Breast cancer is a malignant tumor that starts from cells of the breast. A malignant tumor is a group of cancer cells that may invade surrounding tissues or spread (metastasize) to distant areas of the body. The disease occurs almost entirely in women, but men can get it, too.

The remainder of this document refers only to breast cancer in women. For information on breast cancer in men, see the American Cancer Society's document, Breast Cancer in Men.

Normal Breast Structure
In order to understand breast cancer, it is helpful to have some basic knowledge about the normal structure of the breasts.

The female breast is made up mainly of lobules (milk-producing glands), ducts (tiny tubes that carry the milk from the lobules to the nipple), and stroma (fatty tissue and connective tissue surrounding the ducts and lobules, blood vessels, and lymphatic vessels).

Most breast cancers begin in the cells that line the ducts (ductal cancers); some begin in the cells that line the lobules (lobular cancers), and the rest in other tissues.

The Lymph (Lymphatic) System
The lymph system is important to understand because it is one of the ways in which breast cancers can spread. This system has several parts.

Lymph nodes are small, bean-shaped collections of immune system cells that are connected by lymphatic vessels. Lymphatic vessels are like small veins, except that they carry a clear fluid called lymph (instead of blood) away from the breast. Lymph contains tissue fluid and waste products, as well as immune system cells (cells that are important in fighting infections). Breast cancer cells can enter lymphatic vessels and begin to grow in lymph nodes.

Most lymphatic vessels in the breast connect to lymph nodes under the arm (axillary nodes). Some lymphatic vessels connect to lymph nodes inside the chest (internal mammary nodes) and those either above or below the collarbone (supraclavicular or infraclavicular nodes).

Knowing if the cancer cells have spread to lymph nodes is important because if it has, there is a higher chance that the cells could have also gotten into the bloodstream and spread (metastasized) to other sites in the body. The more lymph nodes that are involved with the breast cancer, the more likely it is that the cancer may be found in other organs as well. This is important to know because it could affect your treatment plan. But not all women with lymph node involvement develop metastases, and it is not unusual for a woman to have negative lymph nodes and later develop metastases.

Benign Breast Lumps
Most breast lumps are not cancerous; that is, they are benign. Still, some need to be sampled and viewed under a microscope to prove they are not cancer.

Fibrocystic Changes
Most lumps turn out to be fibrocystic changes. The term "fibrocystic" refers to fibrosis and cysts. Fibrosis is the formation of fibrous (or scar-like) tissue, and cysts are fluid-filled sacs. Fibrocystic changes can cause breast swelling and pain. This often happens just before a period is about to begin. Your breasts may feel lumpy and, sometimes, you may notice a clear or slightly cloudy nipple discharge.

Other Benign Breast Lumps
Benign breast tumors such as fibroadenomas or intraductal papillomas are abnormal growths, but they are not cancer and cannot spread outside of the breast to other organs. They are not life threatening. Still, some benign breast conditions are important because women with these conditions have a higher risk of developing breast cancer.

For more information see the section, "What Are the Risk Factors for Breast Cancer?" and the American Cancer Society document, Noncancerous Breast Conditions.

Breast Cancer General Terms
It is important to understand some of the key words used to describe breast cancer.

Carcinoma
This is a term used to describe a cancer that begins in the lining layer (epithelial cells) of organs such as the breast. Nearly all breast cancers are carcinomas (either ductal carcinomas or lobular carcinomas).

Adenocarcinoma
An adenocarcinoma is a type of carcinoma that starts in glandular tissue (tissue that makes and secretes a substance). The ducts and lobules of the breast are glandular tissue (they make breast milk), so cancers starting in these areas are sometimes called adenocarcinomas.

Carcinoma In Situ
This term is used for the early stage of cancer, when it is confined to the layer of cells where it began. Specifically in breast cancer, in situ means that the cancer cells remain confined to ducts (ductal carcinoma in situ) or lobules (lobular carcinoma in situ). They have not invaded into deeper tissues in the breast or spread to other organs in the body, and are sometimes referred to as non-invasive breast cancers.

Invasive (Infiltrating) Carcinoma
An invasive cancer is one that has already invaded beyond the layer of cells where it started (as opposed to carcinoma in situ). Most breast cancers are invasive carcinomas -- either invasive ductal carcinoma or invasive lobular carcinoma.

Sarcoma
Sarcomas are cancers that start from connective tissues such as fat tissue or blood vessels. Sarcomas of the breast are rare.

Types of Breast Cancers
There are several types of breast cancer, although some of them are quite rare. It is not unusual for a single breast tumor to be a combination of these types and to have a mixture of invasive and in situ cancer.

Ductal Carcinoma In Situ (DCIS)
Ductal carcinoma in situ (also known as intraductal carcinoma) is the most common type of non-invasive breast cancer. DCIS means that the cancer cells are inside the ducts but have not spread through the walls of the ducts into the surrounding breast tissue.

About 1 out of 5 new breast cancer cases will be DCIS. Nearly all women diagnosed at this early stage of breast cancer can be cured. A mammogram is often the best way to find DCIS early.

When DCIS is diagnosed, the pathologist (a doctor specializing in diagnosing disease from tissue samples) will look for an area of dead or dying cancer cells, called tumor necrosis, within the tissue sample. If necrosis is present, the tumor is likely to be more aggressive. The term comedocarcinoma is often used to describe DCIS with necrosis.

Source: http://www.cancer.org

Konsultasi Pengobatan
HIV/AIDS dan Kanker
Hotline: 087878821248 
SMS (021)9346.1965 - 081385386583

Pasang Iklan Anda Di Sini!

OpenStage at Cibitung

 
Support : Webrizal | Tutorial | My Opini
Copyright © 2009-2014. Comedy Store Indonesia - All Rights Reserved
Template Recreated by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger